Senin, 01 April 2019

Kenali Risiko Pinjaman Online Yang Anda Belum Ketahui

Mudahnya proses pinjaman online yang marak ditawarkan satu tahun terakhir, tak dipungkiri menjadi salah satu pilihan masyarakat yang memerlukan dana segar dalam waktu cepat. Kabarnya, pinjaman ini hanya memerlukan waktu pengajuan 1-2 hari kerja dan bunga yang rendah.  

 Pinjaman Online

Belum lagi kemudahan pengajuan yang tinggal menggunakan aplikasi di ponsel pintar, sehingga nasabah tidak perlu lagi datang ke kantor atau bank untuk mengurus pinjaman. Apalagi jika yang dipinjam ‘hanya’ 5-10 juta Rupiah, tentu tak ingin dipersulit jika harus bolak balik ke bank.

Namun benarkah pinjaman online benar-benar tanpa risiko seperti yang diumbar? Berikut beberapa risiko yang mengancam anda sebagai pengguna pinjaman online :

Plafon pinjaman tergolong kecil

Risiko yang ada pada pinjaman tanpa agunan adalah besarannya tentu tidak mungkin besar. Paling tidak berkisar antara 1-5 juta Rupiah, itu pun dengan sejumlah syarat yang berlaku. Hal ini dikarenakan tidak ada agunan yang jadi jaminan, sehingga nasabah tidak dapat mengambil pinjaman dalam jumlah yang besar. Kalau mau pinjaman lebih besar, tentu harus mengajukan pinjaman ke bank.

Akses data pribadi nasabah lewat aplikasi

Data pribadi ini didapatkan perusahaan penyedia jasa pinjaman melalui aplikasi yang diunduh. Di mana yang bersangkutan harus meng-install aplikasi pinjaman di ponsel pintarnya, sebelum dapat mengajukan pinjaman yang diinginkan. 

Namun, risikonya tentu saja adalah ekspos data pribadi yang secara tidak sadar sudah disetujui oleh si nasabah. Seperti kontak dan data pribadi lainnya yang tersimpan di ponselnya. Apalagi saat ini belum ada aturan hukum yang melarang hal tersebut, selama dilakukan oleh yang bersangkutan selaku pemilik ponsel.

Tingkat bunga tinggi

Dalam beberapa iklannya di berbagai platform, nasabah kerap tergiur dengan tawaran bunga yang sangat rendah, yakni kurang dari 1 persen. Padahal, aslinya bunga yang ditetapkan juga tinggi karena tergantung dari besaran jaminan yang anda ajukan. 

Ditambah lagi, hingga saat ini Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selaku pengawas lembaga keuangan belum sama sekali mengatur besaran batasan bunga yang berlaku bagi pinjaman online. Hal ini akhirnya berimbas pada besaran bunga yang cukup tinggi yang ditanggung nasabah, dengan alasan besarnya risiko yang ditanggung oleh perusahaan tersebut. 

Lamanya persetujuan pinjaman

Salah satu yang membuat nasabah juga tergiur adalah iming-iming waktu pencairan pinjaman yang sangat cepat dibandingkan bank atau lembaga keuangan lainnya. Benarkah?

Faktanya, persetujuan untuk pinjaman anda kadang memerlukan waktu hingga 1 minggu lamanya atau bahkan tidak ada respon sama sekali. Hal ini bisa dilihat dari komentar-komentar di Play Store di laman aplikasi yang akan digunakan untuk pengajuan pinjaman. Banyaknya pengajuan yang diterima perusahaan juga mengakibatkan lambannya proses tersebut disetujui, dan menimbulkan keluhan dari banyak penggunanya.

Ditagih ala rentenir

Rasanya sudah menjadi rahasia umum, jika pengguna pinjaman onine akan ditagih dengan cara yang tidak manusiawi bahkan terkesan ancaman. Cara ini sangat mirip dengan yang dilakukan rentenir, yang sering anda lihat di tayangan televisi. Teror melalui telepon, pesan singkat ke seluruh daftar kontak yang nasabah milik, hingga didatangi secara langsung ke rumah, menjadi hal-hal yang akan anda alami. Meskipun baru terlambat satu hari karena berbagai masalah, hal tersebut tidak dapat ditoleransi oleh pihak penyedia jasa pinjaman berbasis teknologi tersebut. 

Itu baru sedikit risiko yang akan dialami oleh calon nasabah. Tentunya masih banyak hal yang mengancam kenyamanan hingga ketenangan hidup mereka yang menggantungkan harapannya pada pinjaman dengan jenis tersebut. Alih-alih mudah, justru banyak masalah yang akan hadir jika tetap bersikeras mengajukan pinjaman lewat aplikasi. 

Ini semakin diperparah dengan belum terdaftarnya semua perusahaan pinjaman online di OJK, selaku pengawas lembaga keuangan. Tak seperti lembaga keuangan atau perbankan konvensional, jika layanan ini belum terdaftar di lembaga tersebut, dapat dikatakan ilegal dan tidak ada pertanggungjawaban jika nasabah merasa dirugikan. 

Saat ini baru ada 64 perusahaan keuangan berbasis teknologi atau fintech yang terdaftar di OJK, per 8 Juni 2018 lalu. Hingga saat ini belum ada satu pun penambahan fintech resmi yang diakui OJK, yang tentunya mengindikasikan masih banyaknya perusahaan pinjaman tak berizin dan berisiko merugikan nasabahnya. Sedangkan jika tidak terdaftar, OJK tentu tidak dapat memberikan sanksi kepada perusahaan tersebut. Lagi-lagi, nasabah yang akan menanggung risiko tinggi.

Untuk memastikan legalitas perusahaan pinjaman berbasis teknologi itu, anda selaku nasabah dapat melakukan pengecekan daftar fintech yang sudah diakui oleh OJK, melalui situs resminya. Jika perusahaan yang anda ingin lakukan pengajuan tidak terdaftar dalam 64 buah perusahaan itu, dapat dipastikan bahwa yang bersangkutan memang bodong dan anda tidak dapat menagih pertanggungjawaban jika timbul kerugian materiil atau bahkan immateriil saat bertransaksi. 

Sebagai calon nasabah, tentunya harus lebih jeli lagi dalam menentukan perusahaan penyedia jasa pinjaman mana yang akan anda gunakan. Jika tidak terdaftar atau dinilai meragukan, lebih baik pilih lembaga keuangan atau perbankan yang memang sudah resmi. Daripada menambah risiko sendiri bagi pribadi hanya karena ingin lebih mudah, lebih baik diribetkan dengan proses pengajuan oleh bank, bukan?

Ingat, mudah bukan berarti aman, apalagi untuk urusan finansial! Cek mengenai pinjaman online lebih detil di https://www.cekaja.com/kredit/pinjaman-online

1 komentar: